Meningkatkan Performa Karyawan dengan Creative Leadership

Meningkatkan Performa Karyawan dengan Creative Leadership

Editor AJAR.id

Meningkatkan Performa Karyawan dengan Creative Leadership

AJAR.id – Hello Ajarian! Creative leadership sudah banyak digunakan di industri teknologi terkemuka, sebut saja Google, Apple, dan industri-industri kreatif lainnya yang telah memimpin pasar di bidangnya masing-masing. Nah, bagaimana bila kita coba adopsi konsep ini untuk industri hotel, apakah relevan? 

Creative leadership sangat tepat digunakan untuk perusahaan startup yang sedang mengembangkan sistem kerjanya atau perusahaan di mana ruang operasionalnya terdapat permasalahan yang kompleks yang memerlukan solusi yang kreatif, cepat dan tepat.

Nah, untuk mendapatkan solusi kreatif tersebut, maka diperlukan sebuah diskusi yang terstruktur serta pola kepemimpinan yang berbeda. Untuk mengaplikasikannya, diperlukan sebuah metode atau alat, salah satunya adalah Leaderless Group Discussion (LGD).

LGD adalah sebuah diskusi dalam kelompok kecil (5-7 orang) dengan materi yang telah ditentukan. Seperti namanya, dalam diskusi ini tidak diperkenankan mengangkat pimpinan kelompok secara formal (leaderless), yakni pemimpin memosisikan dirinya sama dengan sang bawahanSehingga, semua anggota kelompok dapat duduk sejajar serta memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam berdiskusi.

Dengan LGD ini, seorang pimpinan baik itu posisi manajerial dalam lingkup departemen maupun GM hotel dapat menilai seberapa jauh stafnya memiliki kemampuan untuk mengungkapkan ide-ide kreatifnyaSelain itu, LGD ini juga berfungsi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada secara bersama-sama.

Seorang leader yang juga merupakan peserta LGD membuat gap (jarak pemisah) antara pimpinan dengan staf hilang karena sama-sama sebagai peserta sehingga staf pun tak ragu untuk mengungkapkan pendapatnya.

Dalam LGD ini, seorang leader juga bisa menilai performa kerja stafnya dan dapat menilai keterampilan berinteraksi secara kelompok dari setiap individu stafnya karena permasalahan yang dipilih erat kaitannya dengan kondisi operasional kerja hotel sehari-hari yang mungkin dialami oleh stafnya selama bekerja.

Dengan metode ini, maka leader dapat melihat individu yang memiliki kemampuan membaca dan menganalisa permasalahan, mencari solusi, mengambil keputusan, kemampuan dalam meyakinkan orang lain serta mempresentasikan ide-idenya dengan cara yang terbuka dan bersahabat sehingga akan tampak pula individu yang hanya menjadi penonton selama proses LGD berlangsung (peserta pasif).

Setelah forum LGD selesai, seorang leader dapat memberikan penilaian atas jalannya LGD tersebut.

Dengan adanya evaluasi, maka seorang leader dapat menentukan langkah yang tepat untuk memperbaiki dan meningkatkan performa kerja stafnya, terutama staf yang hanya menjadi penonton tersebut (pasif) pada saat LDG berlangsung.

Langkah mengembangkan potensi staf pasif tersebut adalah dengan memberikan pelatihan tambahan ataupun memberikan intensitas diskusi yang lebih tinggi sehingga lambat laun setiap staf berani untuk menyalurkan ide dan pendapatnya masing-masing untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul di departemennya. Sehingga budaya ewoh pakewoh (rasa malu dan minder) dapat teratasi secara perlahan dan staf pasif tersebut dapat dikembangkan.

Dampak positif lainnya adalah terjalinnya komunikasi dan koordinasi yang baik antar staf dengan Manajer sehingga terbentuklah tim kerja yang solid, meningkatkan kompetensi staf dan produktivitas kerja. Selain itu, para decision maker (pengambil keputusan) seperti Manager dan General Manager dapat terbantu dengan banyaknya solusi-solusi kreatif dan aplikatif yang dihasilkan melalui forum LGD.

Hanya saja keefektifan dari LGD ini sangat tergantung dari sikap pemimpinnya.

Apa saja kah syarat-syarat untuk pemimpin LGD?

Syarat pertama, mereka haruslah memiliki sifat yang open minded untuk memberikan kesempatan bagi stafnya agar dapat mengemukakan pendapatnya, karena apabila seorang pimpinan tersebut sangat otoriter, kaku, dan hanya mementingkan pendapatnya sendiri maka LGD pun tidak akan berjalan sesuai dengan tujuannya. Bisa jadi LGD akan berubah suasana menjadi debat kusir yang tak ada ujungnya.

Syarat kedua, pemimpin harus dapat menjadi penengah apabila di dalam LGD ini stafnya juga saling beradu argumen masing-masing. Ia harus memastikan bahwa setiap anggota rapat haruslah berorientasi kepada solusi aplikatif atas permasalahan operasional hotel yang sedang dihadapi.

Kesimpulan dari artikel ini adalah dengan adanya forum LGD, seorang leader dapat meningkatkan performa dan kompetensi stafnya dengan memberikan kelonggaran untuk memikirkan, berdiskusi, dan menjalankan buah karyanya sendiri. Sehingga, mereka akan lebih termotivasi untuk melakukan "solusi" yang telah mereka temukan sendiri.

Adapun kompetensi dan performa yang dapat ditingkatkan oleh staf hotel melalui LGD ini meliputi:

  • Kemampuan menyampaikan pendapat dan ide-ide kreatifnya
  • Keberanian staf untuk berbicara di depan umum (Public Speaking)
  • Kreativitas seorang staf di dalam mencari dan menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi
  • Meningkatkan kemampuan analisa seorang staf dalam mencari solusi atas permasalahan yang terjadi (Problem Solving)
  • Kerja sama tim (Team Work)
  • Rasa percaya diri seorang staf
  • Pola pikir seorang staf

Manfaat LGD untuk seorang leader di hotel adalah:

  • Lebih mengetahui dan mengenal karakter dan potensi individu stafnya
  • Mendapatkan ide-ide dan solusi aplikatif atas permasalahan yang terjadi sehingga bisa menjadi bahan acuan di dalam membuat sebuah keputusan (bottom up decision making)
  • Hubungan seorang staf dengan pimpinannya pun akan berjalan dengan harmonis
  • Tim yang dipimpinnya pun akan menjadi solid sehingga memudahkan koordinasi dan komunikasi.
  • Pimpinan dapat menganalisa kelemahan masing-masing staf sehingga pemimpin dapat merumuskan kebutuhan pelatihan untuk staffnya.
  • Pimpinan menjadi memiliki kesempatan untuk memberikan coaching, yakni dengan membimbing staf dalam menjalankan ide/solusi yang telah dibuat sehingga lebih mudah diterima dan dilaksanakan sebagai sebuah kebijakan atau tindakan.
  • Pimpinan dapat menggunakan ide yang dianggap brilliant untuk dijabarkan ke dalam konsep planning untuk berinovasi.

Untuk berkonsultasi mengenai topik-topik leadershipmanagement dan topik lain di industri hospitality, silakan kirimkan pesan ke AJAR.id.

Baca juga: Sifat dan Karakter yang Harus Dimiliki oleh Hotelier

Salam Jempol!

By Ikin Solikin

Recommended Posts

AJAR in The News