4 Penyebab Karier Hotelier "Mandeg"

4 Penyebab Karier Hotelier "Mandeg"

Editor AJAR.id

4 Penyebab Karier Hotelier "Mandeg"

AJAR.id – Hello Ajarian! Tidak semua orang yang bekerja punya keinginan untuk meniti karier di dalam menggeluti profesinya, sehingga ada seseorang yang bekerja bertahun-tahun namun hanya bertugas sebagai karyawan bawah.

Memang tidak ada yang salah jika mereka tidak memiliki keinginan untuk tidak berkarier selama "kebutuhan hidup" tidak berubah selaras dengan "usia" yang kian bertambah. Tetapi ketika "kebutuhan hidup" meningkat setiap tahunnya, maka satu-satunya harapan agar pendapatan kita berubah yaitu dengan cara "Meniti Karier" untuk mengimbangi kebutuhan kita yang kian merangkak naik tiap tahunnya.

Contoh ilustrasi dalam Exhibit 1 adalah potret di mana setiap tahun "kebutuhan minimum" terus merangkak naik sesuai dengan proyeksi kebutuhan hidup layak.

Proyeksi tersebut dibuat berdasarkan perkiraan minimun atas kenaikan inflasi sebesar 5% dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% tiap tahunnya di mana kenaikan upah hanya berkisar di angka 8-11% per tahun. Ilustrasi tersebut dibuat untuk kawasan Jakarta, namun pada dasarnya tetap saja kebutuhan dasar akan naik di tiap daerah, karena dasar penghitungannya adalah nilai inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang diolah dari tren sebelumnya dan proyeksi ke depan dari berbagai sumber.

Dengan melihat realita bahwa setiap tahunnya kebutuhan kita merangkak naik selaras dengan "jumlah usia" yang kian bertambah dewasa dengan berbagai macam beban hidup di dalamnya, maka "Gaji" pun harus mampu mengimbanginya untuk menutup semua beban pengeluaran yang ada.

Jika yang Kamu kejar adalah "Gaji", maka setiap hotel punya aturannya sendiri-sendiri. Tentunya mereka menggunakan peraturan pemerintah sebagai dasar keputusan dalam menaikkan gaji. Oleh karena itu, mengejar "Gaji" dengan berdemo atau cara-cara negatif lain sangatlah tidak tepat untuk dilakukan, karena kemampuan perusahaan juga terbatas.

Lalu, bagaimana solusinya?

Kejarlah "Karier", karena gajimu akan berbanding lurus dengan pencapaian tangga karier yang Kamu tapaki. Ilustrasi dalam Exhibit 2 adalah contoh bahwa kenaikan "Gaji" bisa diperoleh dengan cara meniti tangga karier di hotelmu atau group dari hotelmu.

Contohnya, Kamu memulai karier pada tahun 2017, maka di tahun 2018 akan ada kenaikan rutin tahunan misalnya sebesar 10% dari gaji yang Kamu peroleh di tahun 2017, Lalu di tahun 2019 posisimu naik ke level Supervisor, maka Kamu akan mendapatkan kenaikan gaji selaras dengan beban tanggung jawab yang Kamu emban. Demikian seterusnya hingga 5-6 tahun ke depan hingga Kamu menduduki posisi Senior Manager.

Jenjang kenaikan karier yang ideal rata-rata di angka 2 hingga 3 tahun, alasannya silakan dipelajari dalam artikel ini.

Setiap jenjang memiliki kenaikan gaji secara signifikan, angkanya fantastis; yang jelas bisa di atas 10% dari yang Kamu terima setiap tahun bahkan bisa di atas 100%. Detailnya saya tidak bisa jelaskan karena urusan gaji ini sangat sensitif dan tidak bisa kita bahas secara gamblang. Yang jelas, dengan menentukan tujuan "Karier" maka Kamu telah memikirkan masa depanmu dan keluargamu.

Lalu, Bagaimana dengan perjalanan kariermu saat ini? Apakah mulus sesuai dengan yang Kamu kehendaki? atau Stagnan di posisi yang sama selama bertahun-tahun? Pola Pikir dan Perilaku seperti apa yang dapat menghambat kariermu dan apa solusinya?

Selama puluhan tahun saya mencoba menganalisa apa yang membuat seseorang kariernya itu "Mandeg", yaitu bertahan di satu posisi bertahun-tahun lamanya dengan tidak naik-naik posisi kerja di hotel yang sama. Dari hasil analisa sederhana yang saya lakukan, ternyata terdapat 4 hal di bawah ini yang membuat seorang hotelier stagnan dalam pencapaian karier yaitu:

Pertama adalah menunggu
Bagian ini adalah jawaban klasik yang selalu saya dengar pada saat bertanya kepada seseorang yang menganggap dirinya "loyal" kepada perusahaan dengan bekerja bertahun-tahun tanpa ada perkembangan dalam karier dan menunggu mendapatkan uang "pensiun" besar dan cukup dipakai untuk hidup di hari tua.

Dia seperti seseorang yang "pasrah" dengan keadaan yang ada dan "menerima" saja kenaikan gaji yang tidak signifikan setiap tahunnya.

Penting untuk di ketahui oleh para hotelier, bahwa kita tidak bekerja di perusahaan BUMN yang mengelola Sumber Daya Alam, yang gaji bulanan nya masih banyak sisa jika pakai belanja satu bulan, bisa dipakai rekreasi dan dipakai menabung pula. Jadi uang pensiun mereka cukup untuk menopang masa tua mereka dan buat buka usaha.

Sepanjang apa yang saya lihat, belum pernah ada cerita pensiunan GM sekalipun dapat menikmati hasil dana pensiun mereka dan berakhir dengan hidup berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, kecuali bagi mereka yang telah memilih berbisnis di tengah-tengah melejit kariernya di industri Perhotelan.

Kedua adalah mereka yang mengatakan "Nanti"
Ya... itulah mereka yang suka mengatakan "nanti saja". Sebuah kata yang dapat menghentikan pikiran untuk sukses di masa depan dan mematikan kesempatan yang ada di depan mata. Kata nanti jika sudah menjadi kebiasaan, tentunya akan menghentikan kariermu juga.

"Nanti" adalah hasil dari sebuah kenyamanan kerja yang membius hotelier menjadi pasif, tidak termotivasi untuk berinovasi dan terlindas oleh waktu. Dengan mengatakan nanti, berarti Kamu menunda semua hal yang mungkin baik adanya untuk masa depanmu. Perusahaan tidak akan terus menerus menawarkan kesempatan berkarier kepada seorang karyawan jika karyawan itu selalu mengatakan "nanti" dengan karier yang ditawarkan.

Biasanya, hotel dalam group yang sama hanya akan memberikan "dua hingga tiga kali kesempatan" dengan memberikan penawaran kepada karyawan untuk dikembangkan, jika masih menolak maka kesempatan itu tidak akan pernah datang kembali.

Ketiga adalah mereka yang suka beralasan
Hotelier yang banyak alasan biasanya hotelier yang malas, tidak disiplin, dan tidak ada komitmen terhadap pekerjaannya. Ciri-ciri orang ini mempunyai performa yang tidak maksimal: sering terlambat masuk kerja, sok tahu, tidak memenuhi deadline, suka berbohong dan suka ngeles. Melihat dari ciri-cirinya saja, orang ini sudah tidak mempunyai nilai jual di mata perusahaan, jadi jangankan berkarier, sebaliknya dia akan menjadi target perusahaan untuk di selesaikan masa kerjanya.

Keempat adalah mereka yang suka mengeluh
Mereka yang "Kurang bersyukur" atas nikmat yang telah Tuhan berikan. Mungkin itu kata yang lebih tepat untuk orang-orang yang suka mengeluh. Terkadang hal sepele saja bisa membuat orang ini mengeluh dan selalu tidak puas dengan apa yang terjadi.

Intinya, orang ini ingin segala sesuatunya berjalan sesuai hanya dengan apa yang dia inginkan. Bahkan, terkadang tidak peduli orang lain susah atas ulahnya, yang penting urusan dia beres.

Orang yang suka mengeluh cenderung tidak produktif dan milih-milih pekerjaan. Dia hanya termotivasi terhadap pekerjaan yang ringan dan mudah saja dan tidak peduli dengan target perusahaan. Si pengeluh ini lama-lama akan menjadi virus bagi lingkungannya.

Jika di level saat ini dengan tugas dan tanggung jawabnya saja masih mengeluh, tertutup sudah kemungkinan dia untuk mendapatkan promosi ke level selanjutnya.

Melihat keempat perilaku di atas, maka agar kariermu cemerlang sebaiknya Kamu dapat menjadi hotelier yang lebih Pro-Active dengan mengutarakan "cita-cita" karier impianmu kepada hotel, Responsive dalam menerima "tawaran kesempatan" yang diberikan oleh group/hotel yang sama, lakukan apa yang ditugaskan, tuntaskan target-target kerja dengan hasil yang sempurna dan terus bersyukur atas apa yang Kamu peroleh.

Sudah Sampai Level Manakah Posisi Kariermu hari ini?

Baca juga: Pilih Gaji atau Karier? Ini Nih yang Menguntungkan

Salam Jempol!

By Hendri Sentosa

Recommended Posts

AJAR in The News