4 Tips Komunikasi Lintas Budaya (Cross-Cultural Communication)

4 Tips Komunikasi Lintas Budaya (Cross-Cultural Communication)

Editor AJAR.id

4 Tips Komunikasi Lintas Budaya (Cross-Cultural Communication)

AJAR.id – Hello Ajarian! Bekerja di industri perhotelan menuntutmu untuk siap menghadapi para stakeholder yang datang dari berbagai latar belakang. Staf, supplier, customer hingga owner hotel memiliki latar belakang kepercayaan, ras, suku, bahkan negara yang berbeda.

Keragaman ini patut diapresiasi, namun ada kalanya timbul miskomunikasi akibat perbedaan paham antar individu tersebut.

Kunci untuk berkomunikasi lintas budaya adalah bersikap sopan dan menghargai perbedaan. Sapa lawan bicara secara formal, panggil tamu dengan nama mereka atau tanyakan seperti apa mereka ingin dipanggil (apakah ada gelar tertentu, dsb).

Dalam artikel ini, AJAR.id akan menjelaskan lebih dalam seputar tips dalam berkomunikasi lintas budaya (cross-cultural communication).

  1. Kebijakan hotel
    Kebijakan dan aturan yang ditetapkan oleh hotel dapat membantu berlangsungnya komunikasi cross-cultural yang efisien. Misalnya kebijakan untuk menyediakan dokumen-dokumen dalam beberapa bahasa, dokumen bisa meliputi registration card, daftar menu, direction, dan peta.

Multi-language signage juga akan sangat membantu tamu asing merasa dihargai dan ‘diterima’. Selain itu, hotel juga bisa menerapkan hal berikut:

  • Menyediakan makanan dan minuman khas negara mereka.
  • Menyediakan surat kabar dan majalah terbitan negara asal tamu.
  • Mempekerjakan staf dari latar belakang budaya yang berbeda atau yang mampu berbahasa asing (bilingual/multilingual).
  1. Kendala bahasa
    Terkadang, ada beberapa tamu yang mencoba berkomunikasi dengan bahasa lokal yang mereka pahami, hal ini tentu membantu dalam berkomunikasi, namun kendala yang kerap muncul adalah aksen, dialek atau penggunaan kata yang sulit dipahami.

Untuk mengatasinya, Kamu bisa melakukan hal berikut:

  • Bicara sejelas mungkin, tanpa memberi kesan bahwa Kamu menganggap lawan bicara itu ‘bodoh’.
  • Bicara dalam volume normal, mereka akan sulit memahami Kamu jika berteriak atau berbicara dengan nada tinggi.
  • Gunakan kertas untuk menulis sebagai media komunikasi.
  • Hindari penggunaan jargon, idiom, atau kata-kata yang membingungkan. Hal ini bisa disalahartikan bahwa Kamu meremehkan mereka.
  • Beri perhatian penuh pada lawan bicara, tunjukkan bahwa Kamu bersedia melayani mereka dengan tulus dan profesional.

Saat lawan bicara terlihat belum paham dengan kata-katamu, cobalah untuk mengulangi penjelasan dalam bahasa yang lebih simpel. Memang butuh kesabaran ‘ekstra’ dalam situasi seperti ini, namun jangan sampai Kamu menganggap orang yang tidak mampu berbicara dalam bahasa lokal sebagai orang yang ‘bodoh.

  1. Komunikasi non-verbal
    Banyak orang yang lebih mudah mencerna informasi berbentuk non-verbal, seperti dengan melihat body language atau eye contact. Namun bahasa non-verbal juga bisa menimbulkan salah paham lho!

Misalnya, menatap mata lawan bicara dianggap sebagai bentuk kejujuran. Sementara di budaya lain, menghindari eye contact adalah sikap respect terhadap lawan bicara.

Cobalah untuk mempelajari kebiasaan dan adat istiadat negara lain, bisa dengan membaca buka, membaca artikel di internet, berbincang langsung atau mengamati tamu berkewarganegaraan asing yang datang. 

  1. Faktor rasa stress

Rasa stres bisa dialami customer maupun staf yang terkendala perbedaan budaya dan bahasa. Customer merasa stres ketika berada di negara yang tidak mereka pahami bahasanya. Staf pun akan stres bila tidak kunjung bisa memahami keinginan tamu yang berbicara dalam bahasa ‘alien’.

Dalam situasi ini, kedua belah pihak pun akan merasa cemas karena merasa tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Tips untuk mengatasinya, pertama-tama terimalah bahwa timbulnya rasa stres itu sangat wajar. Ingat, merasa stres bukan berarti Kamu gagal menangani situasi lho! Tenangkan dirimu dan selanjutnya Kamu bisa mengidentifikasi permasalahan beserta solusinya.

Kunci dalam cross-cultural communication adalah peka, sabar, tulus dan bersedia untuk melayani sepenuh hati. Pahami bahwa perbedaan yang ada bukanlah menjadi penentu siapa yang lebih superior atau inferior, karena semua orang berhak atas pelayanan yang sama terlepas dari latar belakang mereka.

Baca juga: 4 Cara Mengatasi Konflik di Hotel

Salam Jempol!

By Inas Nadiyah

Recommended Posts

AJAR in The News