Ciri-Ciri Kamu Akan Dibajak Hotel Lain

Ciri-Ciri Kamu Akan Dibajak Hotel Lain

Editor AJAR.id

Ciri-Ciri Kamu Akan Dibajak Hotel Lain

AJAR.id – Hello Ajarian! Tingginya supply hotel baru dan kebutuhan karyawan hotel membuat jumlah lowongan pekerjaan perhotelan semakin meningkat. Hal inilah yang menyebabkan perputaran karyawan di industri perhotelan semakin tinggi yang sangat berdampak negatif kepada konsistensi pelayanan dan produktivitas bisnis.

Bila kita cermati, maka banyak sekali info lowongan pekerjaan hotel yang tersebar di berbagai social media dan portal lowongan pekerjaan. Berdasarkan analisa yang diperoleh dari tracking system dari AJAR.id, informasi lowongan pekerjaan di bidang perhotelan yang disebarkan melalui berbagai social media pada bulan Juli 2016 hingga oktober 2016 terdapat sekitar 150 informasi lowongan pekerjaan per detik

Dari jumlah tersebut, rata-rata terdapat 5 informasi yang identik sama yang tersebar tiap detiknya. Kesamaan informasi tersebut berupa "nama hotel" dan "posisi yang ditawarkan". Sebaran informasi terdeteksi berasal dari user yang berbeda yang di-share secara viral melalui 3 jenis social media, yaitu Facebook (55%), LinkedIn (35%) dan Twitter (10%) dalam periode riset dilakukan. Dari informasi ini terlihat jelas bahwa divisi HRD telah melakukan upaya keras dalam mencari karyawan terbaik untuk bergabung di hotelnya.

Dengan jumlah tersebut, tidak heran bila perebutan karyawan potensial menjadi hal yang umum terjadi di mana-mana sehingga bajak-membajak karyawan pun tidak bisa terhindarkan demi memenuhi kebutuhan karyawan di hotelnya masing-masing. Walaupun, sebetulnya secara kode etik bisnis tidak sepantasnya dilakukan oleh para profesional hotelier.

Nah, dalam artikel ini akan dikupas berbagai macam ciri-ciri ketika Kamu akan dibajak oleh hotel lain dan apa respons yang bisa Kamu lakukan sehingga tujuan kariermu dapat terwujud.

Sebelum masuk ke poin utama, definisi "bajak" adalah Kamu ditawarkan pekerjaan oleh hotel lain. Proses menawarkannya terjadi dengan cara langsung menghubungimu walaupun Kamu tidak pernah memasukkan data-data pribadimu (melamar) kepada sang pemberi kerja. 

Bila Kamu tertarik dengan tawaran tersebut, maka itu adalah Hakmu, begitu juga bagi sang Pembajak, itu juga hak mereka dan tidak dilarang dalam undang-undang. Hanya saja, hal ini tidak layak jika ditinjau dari sudut pandang "etika bisnis di bidang perhotelan", terlebih dilakukan oleh para profesional hotelier yang terkenal menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, keramahan dan kepedulian terhadap sesama. "Etika Bisnis" ini sangat penting karena dapat merusak hubungan dengan sesama hotelier dan juga berdampak negatif terhadap bisnis bagi hotel yang dibajak.

Dihimpun dari berbagai sumber, maka terdapat tiga cara bagaimana cara sang pembajak akan mendekatimu, yaitu dengan cara "Soft", "Hard" dan "Super Aggresif Approach" yang umum terjadi di Indonesia.

Ciri Pertama:Soft Approach

pertama ini cukup lembut dengan cara-cara di bawah:

  • Sang pembajak melirik profil LinkedIn atau Facebookmu, lalu mengirimkan pesan ajakan untuk melamar di hotelnya.
  • Sang pembajak menghubungimu via telepon atau email, mengenalkan diri mereka, dan mengatakan bahwa ia memperoleh nomor teleponmu dari orang yang Kamu kenal. Lalu, menawarkanmu pekerjaan dan mengatur jadwal untuk wawancara.

Ciri Kedua: Hard Approach

Pada pendekatan kedua ini sang pembajak lebih agresif dengan cara mendatangi hotelmu secara langsung dengan menyamar menjadi tamu ketika Kamu sedang bekerja, lalu memberikan kartu nama dan memintamu memasukkan lamaran pekerjaan.

Ciri Ketiga: Super Aggresif Approach

Setelah Kamu berhasil masuk, maka sang pembajak akan meminta referensi kandidat terbaik lainnya dari hotelmu bekerja saat ini dan mengiming-imingi paket gaji yang fantastis atau menawarkan posisi yang lebih tinggi. Bila jumlah kandidat yang berhasil bergabung dengan hotel sang pembajak banyak, maka umumnya disebut sebagai "Bedol Desa" atau berbondong-bondong pindah ke hotel sang pembajak.

Bila Kamu mengalami ketiga hal di atas, maka sebaiknya:

  • Pelajari track record dari hotel yang menawarkanmu pekerjaan, tanyakan kepada rekan-rekanmu yang sedang atau sudah pernah bekerja pada hotel tersebut mengenai suasana kerja yang ada di sana.
  • Pikirkan matang-matang atas tawaran yang diberikan oleh sang pembajak. Pertimbangkan masa kerjamu dengan matang. Uang bukanlah segalanya, track record kariermu akan lebih berharga untuk masa depanmu. Hindarkan dirimu di cap sebagai "kutu loncat" karena berpindah-pindah kerja dengan durasi kerja yang singkat di tiap hotelmu bekerja.
  • Konsultasikan kepada atasanmu agar Kamu memperoleh pandangan yang berbeda. Sang Atasan hanya berhak memberikan masukan, semua keputusan sepenuhnya adalah Hakmu.
  • Pikirkan timmu dan operasional kerja bila Kamu meninggalkan mereka. Ingat kembali hal-hal positif yang telah/akan Kamu peroleh di hotelmu saat ini. Lalu, bersyukur dengan cara melihat orang-orang di sekitarmu yang masih belum beruntung sepertimu.
  • Pelajari dengan seksama, apa yang akan terjadi setelah Kamu bergabung. Lihatlah kompetensimu saat ini dan posisi yang ditawarkan. Bila merasa kompetensimu masih belum cukup untuk menduduki posisi yang lebih tinggi, lebih baik urungkan niatmu, lalu asah kompetensimu hingga betul-betul siap menduduki jenjang karier selanjutnya.

Sebagai tambahan, berikut adalah ciri-ciri kenapa mereka melakukan proses rekrutmen dengan cara melupakan etika (membajak):

  • Memerlukan banyak karyawan dalam waktu singkat. Umumnya ini terjadi pada hotel-hotel pre-opening yang memerlukan banyak tenaga kerja sebelum hotel dibuka. Rata-rata per hotel akan memerlukan 50-200 karyawan untuk kelas bintang yang berbeda.
  • Tingginya angka perputaran karyawan (turn over) dan sulitnya mencari karyawan karena stigma image negatif mengenai tata kelola sumber daya manusia yang sudah terlanjur banyak diketahui dan dirasakan oleh para mantan karyawannya yang kecewa dan sudah menyebar dari mulut ke mulut.
  • Brand hotel baru yang memerlukan karyawan profesional, siap pakai dan berkaliber tinggi agar cepat melakukan penetrasi ke pasar.

Bila Kamu dibajak, itu artinya posisi Kamu "Dibeli", perlu dicatat bahwa "Sang Pembeli" pun mengharapkan timbal balik dari kinerjamu, mereka menginginkanmu dalam posisi "siap", selayaknya mereka membeli sebuah "mesin" yang akan langsung berfungsi setelah dipasang.

Pertanyaannya, apa yang akan terjadi bila Kamu tidak mampu memenuhi harapan dari "Sang Pembeli"? Apa yang akan terjadi terhadap masa depan kariermu bila track record kariermu kurang memuaskan di mata sang pembajak?

Tujuan tulisan ini adalah untuk memberikan pandangan agar kode etik dalam merekrut karyawan terjadi secara positif. Sehingga, tidak ada hotel atau orang lain yang dirugikan atas aksi bajak membajak yang telah diutarakan di atas.

Sebaiknya biarkanlah kandidat melamar secara natural dan perhatikan pula durasi kerja pada hotel ia bekerja saat ini. Biarkanlah calon kandidat tersebut dapat lebih fokus dalam meniti kariernya dan mengasah kompetensinya jika memang belum betul-betul siap untuk menempati jenjang yang lebih tinggi. Sehingga, apa yang kita lakukan tidak merugikan sang kandidat, hotel lain dan hotelmu sendiri.

Tentunya kita semua mengharapkan situasi bisnis yang kondusif dengan mengedepankan etika dalam bersosialisasi. Dari pada membajak karyawan lain, lebih baik membajak sawah sendiri saja, yaitu dengan cara menanamkan benih-benih kandidat dan pemimpin untuk masa depan hotelmu. Lebih sehat dan berguna untuk banyak orang.

Baca juga: Pentingnya Personal Branding bagi Hotelier

Salam Jempol!

By Ikin Solikin

Recommended Posts

AJAR in The News