Kedung Pedut, Riam Jernih di Kulon Progo

Kedung Pedut, Riam Jernih di Kulon Progo

Editor AJAR.id

Kedung Pedut, Riam Jernih di Kulon Progo

Air jernih dan kebiruan mengalir deras dari beberapa riam bertingkat di kawasan Dusun Kembang, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo. Gemericik air yang terus mengiringi setiap langkah pengunjung menyusuri setiap shaf riam-riam kecil bak nyanyian alam tak terkalahkan.

Riam-riam bertingkat inilah yang lantas menjadikan Kedung Pedut sebagai surga tersembunyi berkat aliran mata air dari Gunung Kelir, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Panorama riam dan jeram serta airnya yang jernih bagaikan lukisan yang menghias lembah ini.

Airnya yang sangat bening dan dingin memang mengundang siapa saja yang berkunjung ke sana untuk berendam atau sekedar bermain kecipuk dengan teman, kerabat ataupun juga pasangan masing-masing.

Tak jarang, banyak pengunjung yang rela untuk bertelanjang dada atau basah-basahan lengkap dengan baju yang mereka kenakan untuk menikmati kesejukan air di Kedung Pedut ini.

Di Kedung Pedut ini, banyak riam yang terbentuk berkat aliran air dari atas bukit. Tinggi masing-masing riam pun berbeda-beda, mulai dari 1 meter hingga 2 meteran.

Di bawah riam, ada beberapa cekungan tempat genangan air menghiasi aliran air. Cekungan-cekungan di bawah riam inilah yang sering dimanfaatkan pengunjung untuk berendam melepas penat.

Jembatan bambu membentang lebar di atas riam dekat lokasi pintu ke luar obyek ini. Dari jembatan ini, pengunjung bisa menyaksikan siapa saja yang berendam dan di mana orang yang paling banyak berendam. Di bawahnya, ada batu kapur sebesar sapi dewasa menandaskan lukisan alam tak pernah luput dari keindahan.

Beberapa pengunjung sering memanfaatkan jembatan bambu tersebut untuk berswafoto. Sebab, spot inilah yang menjadi salah satu daya tarik utama pengunjung untuk berswafoto menggunakan kamera digitalnya ataupun smarthphone mereka. Selain di atas dan di bawah jembatan bambu tersebut, masih banyak spot swafoto yang indah untuk dilewatkan.

Riam yang banyak tersebut merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Jatuhnya air dari masing-masing riam memang tidak membentuk pusaran sehingga tidak membahayakan bagi pengunjung yang sangat ingin mandi. Kolam-kolam alami yang terbentuk dari aliran air di riam ini bisa dimanfaatkan oleh anak-anak untuk bermain.

Pengelola Kedung Pedut, Yuhono menceritakan awal kawasan tersebut dikenal sebagai Kedung Pedut. Kedung berarti kolam, sementara Pedut adalah kabut tipis yang sering terjadi di daerah dingin ataupun di daerah ketinggian. Oleh karena itu, tempat tersebut disebut Kedung Pedut karena sering kali terjadi kabut.

“Sebenarnya, sama seperti beberapa destinasi terkemuka di DI Yogyakarta, Kedung Pedut awalnya bukanlah apa-apa. Masyarakat lebih memandangnya sebagai kawasan yang angker alias mistis. Bahkan kawasan tersebut justru menjadi kawasan yang’disingkiri’ oleh masyarakat sekitar karena dianggap angker.” ujar Yuhono.

“Banyak cerita mistis menyertai tempat ini. Namun kini perlahan sudah mulai hilang,” tuturnya.

Pengembangan Kedung Pedut menjadi destinasi wisata ternyata bermula dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari salah satu universitas yang ada di DI Yogyakarta.

Tahun 2013, di mana ada kelompok KKN yang mengadakan kegiatan di dusun mereka. Mahasiswa KKN tersebut tinggal sekitar sebulan di Dusun Kembang.

Mahasiswa-mahaiswa KKN ini lantas tertarik dengan keindahan riam atau air terjun kecil di Kedung Pedut tersebut. Mahasiswa KKN tersebut lantas mengabadikan spot-spot menarik di kawasan Kedung Pedut tersebut. Mereka lantas mengunggahnya di akun media sosial mereka masing-masing.

“Sejak saat itu, banyak pendatang yang berkunjung ke tempat ini,” tambahnya.

Warga lantas membuat jalan setapak di tepi kawasan Kedung Pedut untuk memudahkan pengunjung menyaksikan orkestra air terjun Kedung Pedut.

Pemandangan jalan setapak yang berupa tebing miring berlumut menjadi penanda wisatawan untuk berhati-hati karena licin.

Destinasi Kedung Pedut ini berada di atas 22 bidang tanah milik warga dusun. Karena kini sudah memberikan hasil untuk masyarakat sekitar, kini pemilik lahan juga mendapatkan bagian dari bagi hasil atas penggunaan lahan mereka untuk lokasi wisata. Sehingga, dengan dibukanya obyek wisata Kedung Pedut ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

in collaboration with Jogjatravel.id

Recommended Posts

AJAR in The News