Leadership Ala Cowboy

Leadership Ala Cowboy

Editor AJAR.id

Leadership Ala Cowboy

AJAR.id – Hello Ajarian! Bila membaca judulnya maka sudah jelas bahwa tulisan ini akan mengacu kepada gaya kepemimpinan yang apa adanya dan ceplas-ceplos atau suatu gaya yang tidak mengindahkan situasi yang sedang dihadapi.

Bila kita flash back dan melihat gaya kepemimpinan, sebetulnya banyak model yang bisa kita terapkan dan tergantung situasi yang dihadapi di hotel. Nah, dalam artikel ini kita akan kupas gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapi oleh sang pemimpin itu sendiri.

Sebut saja ada tiga model kepemimpinan, yaitu:

Pertama Gaya Autocratic 

Autocratic berasal dari bahasa Yunani yang dapat diterjemahkan sebagai “one who rules by himself” (Wikipedia, 2009). Autocratic leadership adalah style kepemimpinan yang menuntut adanya kepatuhan penuh dari bawahannya tanpa meminta adanya pembangkangan atau keraguan.

Style kepemimpinan seperti ini senangnya membuat keputusan berdasarkan pemikirannya sendiri dan jarang sekali mau menerima masukan orang lain. Autocratic leadership bersifat absolute dan mengontrol total bawahannya (Lewin, 1939). Dalam gaya ini, inovasi di hotel tidak berjalan dengan baik, namun peran kontrol pemimpin sangat kental dalam mengendalikan bawahan.

Kedua Gaya Democratic Leadership 

Democratic leadership adalah style kepemimpinan yang melibatkan partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan organisasi. Pemimpin hanya bertindak berdasarkan kepercayaan, integrity, kejujuran, equalityopenness, dan mutual respect.

Pemimpin mengakui, menghormati, dan memperhatikan orang lain dengan mendengarkan dan memahami dengan empati. Mereka memotivasi bawahan agar terus mencapai kemampuan dan meningkatkan motivasi bekerja. Penekanan dalam gaya ini adalah mengakui pentingnya kerja sama tim dan lebih memosisikan dirinya sebagai fasilitator untuk membangun sinergi antara individu di dalam kelompok.

pemimpin sangat memahami kesalahan dan lebih memilih reward dibandingkan dengan punishment (MacGrefor, 2004).

Ketiga Gaya Delegative Leadership 

Gaya ini disebut juga Laissez-Faire, dalam gaya ini sang pemimpin percaya dan memberikan kebebasan kepada bawahannya.

Membiarkan bawahannya menghadapi situasi sendirian, sehingga bawahan dapat melakukan apa yang mereka mau.

Kenapa mereka sangat percaya terhadap bawahan? Ada dua alasan. Pertama, dia sangat yakin bahwa bawahannya sangat paham dengan pekerjaannya. Kedua, dia mungkin berada dalam lingkungan politik, di mana dia tidak dapat melakukan apapun karena ketakutan jika ia tidak disukai oleh pendukungnya/bawahannya.

Delegative Leadership dicirikan dengan jarangnya pemimpin memberikan arahan, keputusan diserahkan kepada bawahan, dan diharapkan anggota organisasi dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri (MacGrefor, 2004).

Nah, mari kita coba aplikasikan ketiga gaya tersebut ke dalam sebuah situasi di mana seorang pemimpin harus dapat merespons situasi yang sedang dihadapi dengan tepat.

Situasi Pertama:

Kamu sebagai pemimpin melihat bahwa karyawanmu di hotel telah mampu bekerja dengan baik, mereka memiliki fasilitas atau tunjangan kerja yang sangat baik pula, namun Kamu melihat banyak sekali keluhan dari tamu-tamu hotel, hasil bisnis hotel tidak tercapai, proyek-proyek kerja banyak mangkrak tidak berjalan sesuai harapan, motivasi karyawan hotel sangat turun sekali.

Apa yang akan Kamu lakukan? Gaya apa yang akan Kamu gunakan?

Situasi kedua

Sebagai pemimpin, Kamu melihat bahwa karyawan hotelmu masih belum dapat mengerjakan tugas-tugasnya, mereka kesulitan dan tidak percaya diri untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan proyek yang telah Kamu berikan. Kamu pun juga masih belum yakin atas apa yang akan Kamu putuskan.

Gaya yang mana yang akan Kamu gunakan? Apa tindakan yang Kamu ambil?

Situasi ketiga

Kamu melihat bahwa semua karyawan hotelmu sudah mampu menjalankan pekerjaannya dengan baik, mereka juga memiliki motivasi tinggi dalam melayani tamu-tamu hotel, semua project yang Kamu berikan telah berhasil dengan sempurna.

Gaya yang manakah yang akan Kamu gunakan dalam situasi ini? Apa yang akan Kamu lakukan?

Kesimpulan

Celakanya, bila Kamu salah menerapkan ketiga gaya tersebut pada situasi yang Kamu hadapi, maka Kamu bisa terjebak ke dalam gaya "Leadership Ala Cowboy".

Pada gaya ini umumnya, mereka hanya menghendaki keinginannya dalam mengambil keputusan tanpa melihat situasi yang sedang dihadapi (autocratic) atau mereka terlalu percaya kepada sang bawahannya terlepas bahawan tersebut memiliki kompetensi atau tidak (delegative). Bisa juga, pemimpin terus-terusan berdiskusi dengan bawahan dalam mengambil keputusan apa pun, sehingga bawahan merasa selalu ingin diperhatikan, terlepas mereka sudah mampu untuk melakukan pekerjaannya sendiri (democratic)

Supaya sang pemimpin tidak terjebak hanya menggunakan satu atau dua model gaya kepemimpinan, hendaknya dapat melihat situasi lebih mendalam sebelum mengambil sebuah keputusan atau tindakan. Sehingga, tidak terjebak ke dalam gaya kepemimpinan Ala Cowboy.

Baca juga: Karakter Pemimpin Jempolan menurut Ki Hajar Dewantara

Salam Jempol!

By Ikin Solikin

Recommended Posts

AJAR in The News