Menerapkan Efektivitas Performa Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri Perhotelan

Menerapkan Efektivitas Performa Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri Perhotelan

Editor AJAR.id

Menerapkan Efektivitas Performa Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri Perhotelan

AJAR.id – Hello Ajarian! Selanjutnya mengenai tahapan-tahapan dalam proses evaluasi pengendalian risiko, Kamu kali ini diajak untuk mempelajari bagaimana menerapkan efektivitas performa keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di industri perhotelan.

Ketika indikator pengukuran risiko telah ditentukan, selanjutnya perlu diputuskan bagaimana mengumpulkan informasi yang diperlukan, seberapa sering pengumpulan informasi tersebut dilakukan, dan siapa yang akan melakukan pengumpulan informasi tersebut.

Beragam informasi yang dikumpulkan baik yang melalui catatan maupun daftar tersebut akan berguna dalam menentukan tingkat efektivitas pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja yang diterapkan dalam industri.

Informasi-informasi tersebut dapat berupa:

  • Kesesuaian prosedur pencatatan kecelakaan dan cedera dengan ketentuan hukum yang berlaku di industri atau negara.
  • Catatan, hasil investigasi, laporan, keterangan, dan hasil analisa kecelakaan, cedera, dan kejadian nyaris cedera (KNC).

Ketika pelaksanaan pengukuran risiko tidak sesuai dengan sasaran, informasi-informasi yang terdapat dalam catatan keselamatan dan kesehatan kerja perlu ditinjau ulang.

Hal ini dapat meliputi frekuensi kejadian dan keadaan bahaya, kerugian waktu yang ditimbulkan, biaya yang ditimbulkan atas kejadian, cedera, atau kecelakaan, dan biaya pelatihan, pembelanjaan perlengkapan keselamatan dan perlindungan diri.

Frekuensi Pengumpulan Informasi

Frekuensi pengumpulan informasi akan sangat bergantung pada jenis pengukuran yang dilakukan, selain juga sistem dan strategi yang diterapkan. Misalnya, indikator-indikator yang berkaitan dengan pelatihan harus dinilai kembali di setiap akhir pelatihan tersebut.

Keseluruhan performa sistem manajemen K3 hanya perlu ditinjau satu tahun sekali, kecuali jika informasi tersebut diperlukan dalam skala bulanan (atau bahkan mingguan) demi memantau perkembangan dan perubahan yang terjadi.

Pihak Pelaksana

Tanggung jawab terkait pengumpulan informasi K3 harus diberikan kepada pihak-pihak tertentu. Di beberapa tempat tertentu, seorang supervisor memiliki kewenangan untuk mengumpulkan informasi di tempat lain.

Sementara itu, suatu kelompok kerja K3 yang dibentuk hanya dapat melakukan pengumpulan data di area penugasan mereka. Seorang manajer yang bertugas sebagai pelaksana K3 di area tertentu dapat melakukan evaluasi di area tersebut.

Komite keselamatan dan kesehatan kerja bersama pihak HSR harus pula terlibat dalam proses evaluasi. Mereka dapat bertugas sebagai pengumpul dan/atau penyedia informasi.

Di sisi lain, khususnya di dalam industri berskala besar, proses evaluasi dapat dilakukan oleh pihak ketiga yang berafiliasi terhadap keseluruhan kebijakan atau sistem manajemen industri tersebut.

Kesimpulannya, tingkat efektivitas performa keselamatan dan kesehatan kerja sangat dipengaruhi oleh hasil pengumpulan informasi terkait permasalahan, cedera, atau kejadian yang berlangsung di industri.

Selanjutnya, Kamu akan mempelajari tahap keempat dan kelima mengenai proses evaluasi pengendalian risiko dalam artikel Menganalisa Hasil dan Membuat Perencanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Baru.

Salam Jempol!

By Patricius Adipratama

Recommended Posts

AJAR in The News