Menikmati Kemegahan Cahaya Surga di Gua Jomblang

Menikmati Kemegahan Cahaya Surga di Gua Jomblang

AJAR Hospitality

Menikmati Kemegahan Cahaya Surga di Gua Jomblang

Menikmati liburan memang tidak harus bersantai dengan sekedar duduk di tepi pantai sembari meresapi sepoi angin laut yang menerpa tubuh. Namun sesekali harus diisi dengan wisata yang mampu memacu adrenalin dan mengeluarkan peluh demi mencari kepuasan sensasi yang menakjubkan.

Bagi yang ingin berwisata yang mampu mempercepat denyut jantung, Gua Jomblang menjadi jawabannya. Bagi petualang yang suka menyusuri gua (caver) tentu tidak asing lagi dengan nama Gua Jomblang yang terkenal dengan Luweng Grubug. Luweng Grubug ini merupakan satu-satunya gua di dunia yang mempunyai pintu masuk cahaya atau dikenal dengan cahaya surga.

Keindahan Gua Jomblang adalah surga bagi pencinta alam sehingga menjadi buah bibir di kalangan petualang (adventurer) yang haus akan petualangan gua.

“Gua Jomblang merupakan gua vertikal yang memang sangat dilindungi dan bukan sembarang orang bisa mengunjunginya,” tutur pengelola sekaligus instruktur Gua Jomblang, Kurniawan Adhi Wibowo.

Gua Jomblang terletak di Jetis Wetan, Panjangrejo, Semanu, Gunung Kidul. Lokasi gua ini berjarak 10 km dari Alun-alun Wonosari kurang lebih 60 menit atau sekitar 60 km dari Kota Yogyakarta selama 1,5 jam.

Pengunjung akan terpesona dengan keindahan Gua Jomblang baik dari sisi artistiknya maupun sinar over of ligth atau sering disebut wisatawan sebagai cahaya surga yang hanya ada satu di dunia dan sangat cantik sekali.

Gua Jomblang akan menjadi ekowisata, bukan wisata massal atau mass tourism, yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Tujuannya adalah untuk melindungi dan memberi penghidupan masyarakat sekitar tanpa merusak lingkungan.

“Masyarakat setempat menyebut Gua Jomblang dengan sebutan Luweng Jomblang. Gua vertikal bertipe collapse doline ini terbentuk akibat proses geologi, amblesnya tanah beserta vegetasi di atasnya ke dasar bumi yang terjadi ribuan tahun lalu,” ujar pemuda yang akrab disapa Pithik.

Pithik menceritakan runtuhan tersebut membentuk sinkhole atau sumuran yang dalam Bahasa Jawa disebut Luweng. Sehingga, gua yang memiliki luas mulut gua yang berdiameter sekitar 50 meter itu sering disebut dengan nama Luweng Jomblang.

Para caver harus melalui tahap yang paling mendebarkan saat memasuki Gua Jomblang karena gua ini berbentuk vertikal. Untuk masuk gua, caver harus mampu menggunakan teknik tali tunggal atau single rope technique (SRT).

Cahaya surga di goa Jomblang Gunung Kidul Yogyakarta

“Bagi para wisatawan dan caver di sini wajib gunakan peralatan khusus SRT set yang terdiri dari seat harness, chest harness, ascender, auto descender, footloop, dan lainnya. Untuk pelengkap ada coverall, sepatu boot, dan headlamp,” imbuhnya.

Sebelum menuruni tebing, Pithik terlebih dahulu menjelaskan mengenai sekelumit Gua Jomblang dan peraturan yang harus ditaati caver demi keselamatan dan keamanan. Di bawah instruksinya, setelah para caver memakai peralatan standar SRT set, satu persatu caver turun ke dasar Gua dengan total kedalaman 80 meter.

Ada tiga jalur yang bisa dilalui, yakni VIP dengan kedalaman 15 meter, standar dengan kedalaman 60 meter, dan ekstrem dengan kedalaman 80 meter.

“Bagi pemula biasanya gunakan jalur VIP meski bisa juga melalui jalur standar. Di jalur standar ini, caver akan mendarat tepat di hutan purba yang ada di dasar gua. Hutan inilah yang membedakan Luweng Jomblang dengan gua lainnya dan wisata di sini disebut juga ekowisata,” jelasnya.

Tepat di dasar Luweng Jomblang terhampar gua horizontal yang cukup lebar. Ini adalah pintu masuk menuju gua atau Luweng Grubug yang berjarak sekitar 300 meter dari dasar Luweng Jomblang. Berjalan di lorong kegelapan sekitar 10 menit, para penelusur akan langsung menemui sebuah fenomena alam yang yang sangat mengagumkan.

Di dasar Luweng Grubug, terdapat dua buah stalagmit besar berwarna hijau kecokelatan. Apabila penjelajah dapat mencapai dasar Grubug pada pukul 12.00-13.00 WIB, pemandangan sinar matahari yang menerobos kegelapan gua akan begitu menakjubkan yang disebut “Cahaya Surga”.

Bagi wisatawan yang ingin mencoba menyusuri Gua Jomblang dikenakan tarif sebesar Rp 450 ribu/orang sudah termasuk full fasilitas dan makan siang. Bagi yang ingin bermalam di resort, tinggal menambah Rp 350.000/orang. Jomblang Resort tidak setiap hari melayani wisatawan.

“Di akhir pekan pun tidak selalu ada pengunjung dan kalaupun ada berkisar 3-4 orang. Kami berkewajiban menjaga kelestarian gua ini beserta hutan purbanya, maka tidak banyak wisatawan tidak menjadi masalah,” imbuh Pithik.

in collaboration with Jogjatravel.id

Recommended Posts

AJAR in The News